Sabtu, 24 November 2012

CERPEN “ILYANA”

Diposting oleh Unknown di 02.13

            Ada sebuah boneka bernama “ilyana”. Entah siapa yang memberinya nama demikian. Memang, ada sulaman huruf-huruf kecil yang membentuk kata “ilyana” di tepi kerah bajunya. Tidak ada yang tahu, apakah itu nama pemilik nya dulu, atau memang nama boneka kain itu
            Keadaan ilyana sangat menyedihkan. Boneka kain itu sangat lusuh dan dekil. Rambutnya gimbal, kotor tak tersisir. Wajahnya cemong seperti ada debu yang menempel. Gaun panjang ilyana terbuat dari perca-perca beraneka corak tak beraturan. Gaun itu pun sudah sangat kumal. Dan ... sepatu ilyana tinggal sebelah.
            Namun sebenarnya boneka ilyana boneka kain yang manis. Sepasang mata nya selalu tampak berbinar ceria. Bibirnya membentuk senyum yang manis. Sayang, ilyana benar-benartidak terawat.
            Entah bagaimana boneka jelek itu bisa berada dalam kantong belanja Alin. Ketika Alin mengeluaran barang-barang belanjanya, tiba-tiba saja muncul boneka itu. Padahal, Alin merasa tidak membelinya. Mungkin punya Prita atau Novika yang tercampur dengan belanjaan Alin.
            Namun, setelah alin menelepon Prita dan Novika, mereka juga tidak merasa membeli boneka itu. Akhirnya, Alin melemparkan boneka kain yang lusuh itu ke dekat rak sepatu. Boneka itu, yang sebenarnya ilyana, menjadi mainan si Pupu, anjing kesayangan Alin. Alin tidak menyukai boneka yang jorok itu. Apalagi merawatnya!
            Sore harinya, terdengar suara mama ribut-ribut di ruang belakang. Alin yang baru pulang les bahasa inggris langsung menuju ke sana. Di dapur, sudah ada Bi Ati yang sibuk membenahi sepatu-sepatu yang berserakan di mana-mana. Raknya malah roboh. Di kolong meja, Pupu tengah memeluk ilyana. Tampaknya, anjing itu menyukai boneka kecil itu.               
 “Lihat itu, ulah si Pupu!” omel mama kepada Alin, “dia mulai nakal!”                                        “Tapi selama ini Pupu tidak pernah nakal, Ma,” ujar Alin membelai anjing nya.                        “Buktinya, semua jadi berantakan. Siapa lagi kalau bukan si Pupu! Dan boneka itu, dari mana dia mendapatkannya?”                                                                                                     
 “Itu mainan Pupu, Ma...”                                                                                             
 “Aduh Alin, sebaiknya mainan boneka kotor itu simpan di gudang saja. Nanti Pupu akan membawanya ke mana-mana.” Kata mama sambil geleng-geleng kepala.
            Akhirnya, Alin merebut boneka itu dari si Pupu. Lalu, melemparkannya ke dalam gudang. Si Pupu hanya bisa mendengking sedih ketika pintu gudang ditutup.
            Malam harinya, peristiwa mengejutkan itu terjadi. Tiba-tiba, Alin mendapati kamarnya berantakan. Buku-bukunya berhamburan kemana-mana. Diatas meja belajarnya terdapat tumpahan air yang membasahi buku-bukunya. Sebagian bukunya penuh dengan coretan spidol. Krayon berserakan di lantai. Dinding kamar Alin penuh dengan coretan krayon warna-warni. Bukan itu saja, tempat tidur Alin porak-poranda.
            Dari balik selimut tersembul seraut wajah tersenyum. Wajah boneka kain itu. Wajah ilyana! Alin serentak. Teringat Pupu yang bendel. Pasti anjing nakal itu bermain-main di kamarnya.                                                                                                                                  “Pupuuuuu..!” jerit Alin kesal ingin menangis.                                                                   Sesungguhnya, si Pupu sama sekali tidak bersalah!
            Keesokan harinya, di sekolah Alin menceritakan kejadian di rumahnya kepada Prita dan Novika. Dia ingin memberikan boneka itu kepada salah seorang teman-temannya itu. Sejak ada boneka itu,si Pupu berubah menjadi sangat nakal.                                                
   “Aku tidak mau ihh.. kotor sekali,” geleng Prita.  
   “Buatku saja. Biar kubersihkan nanti. Sebenarnya, boneka ini manis sekali. Hei, namanya ilyana! Lihat, di kerah bajunya ada sulaman namanya. Bagus ya, namanya?” seru Novika tanpa rasa jijk memeluk boneka itu. Alin dan Prita hanya saling pandang heran.
            Ternyata setelah dibersihkan, ilyana benar-benar menjelma menjadi boneka yang sangat manis. Novika menyisir rambut ilyana yang indah. Lalu, memberinya tempat tidur kecil dan selimut mungil. Wajah ilyana tampak berseri-seri diperlukan penuh sayang oleh Novika.
            Malam itu, rumah Novika sepi. Mereka sekeluarga menghadiri pesta pernikahan Om Aji. Tinggal Bi Num yang sudah tidur pulas di kamarnya. Dua orang pencuri berhasil masuk rumah lewat pintu dapur. Salah seorang masuk ke kamar mama Novika. Seorang lagi sibuk mengemasi pajangan-pajangan kristal di ruang tengah.
            Tiba-tiba, semua lampu menyala, kemudian terdengar suara langkah kecil. Kedua pencuri itu sangat kaget. “Hei kamu bilang semua sudah pergi kecuali pembantunya?” bisik salah seorang pencuri kepada temannya. Temannya hanya diam. Akhirnya, mereka pergi tanpa membawa hasil. Ketika melangkah, salah seorang pencuri menginjak ilyana yang tergeletak di lantai. Dia mengambil boneka itu. Tapi ditengah jalan, temannya menyuruh membuang boneka itu. Karena memang tidak ada gunanya.
            Akhirnya, ilyana tergeletak di samping tempat sampah. Tubuhnya kotor terkena lumpur. Maukah kamu memungutnya dan menyayanginya? Karena sesungguhnya, ilyana bukan boneka sembarangan. Dia akan menolong bila disayangi. Dengan kekutannyannya, ilyana berhasil mengusir pencuri dari rumah Novika.
            Tapi, ilyana akan membalas bila dibenci. Seperti kejadian-kejadian di rumah Alin. Sekali lagi, maukah kamu memungut ilyana?

0 komentar:

Posting Komentar

 

smile :) Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting