Ada sebuah boneka bernama “ilyana”. Entah
siapa yang memberinya nama demikian. Memang, ada sulaman huruf-huruf kecil yang
membentuk kata “ilyana” di tepi kerah bajunya. Tidak ada yang tahu, apakah itu
nama pemilik nya dulu, atau memang nama boneka kain itu
Keadaan ilyana sangat menyedihkan. Boneka
kain itu sangat lusuh dan dekil. Rambutnya gimbal, kotor tak tersisir. Wajahnya
cemong seperti ada debu yang menempel. Gaun panjang ilyana terbuat dari
perca-perca beraneka corak tak beraturan. Gaun itu pun sudah sangat kumal. Dan ...
sepatu ilyana tinggal sebelah.
Namun sebenarnya boneka ilyana
boneka kain yang manis. Sepasang mata nya selalu tampak berbinar ceria. Bibirnya
membentuk senyum yang manis. Sayang, ilyana benar-benartidak terawat.
Entah bagaimana boneka jelek itu
bisa berada dalam kantong belanja Alin. Ketika Alin mengeluaran barang-barang
belanjanya, tiba-tiba saja muncul boneka itu. Padahal, Alin merasa tidak
membelinya. Mungkin punya Prita atau Novika yang tercampur dengan belanjaan
Alin.
Namun, setelah alin menelepon Prita
dan Novika, mereka juga tidak merasa membeli boneka itu. Akhirnya, Alin
melemparkan boneka kain yang lusuh itu ke dekat rak sepatu. Boneka itu, yang
sebenarnya ilyana, menjadi mainan si Pupu, anjing kesayangan Alin. Alin tidak
menyukai boneka yang jorok itu. Apalagi merawatnya!
Sore harinya, terdengar suara mama
ribut-ribut di ruang belakang. Alin yang baru pulang les bahasa inggris
langsung menuju ke sana. Di dapur, sudah ada Bi Ati yang sibuk membenahi
sepatu-sepatu yang berserakan di mana-mana. Raknya malah roboh. Di kolong meja,
Pupu tengah memeluk ilyana. Tampaknya, anjing itu menyukai boneka kecil itu.
“Lihat itu, ulah si Pupu!” omel mama kepada
Alin, “dia mulai nakal!” “Tapi selama ini Pupu tidak pernah nakal, Ma,”
ujar Alin membelai anjing nya. “Buktinya, semua jadi
berantakan. Siapa lagi kalau bukan si Pupu! Dan boneka itu, dari mana dia
mendapatkannya?”
“Itu
mainan Pupu, Ma...”
“Aduh Alin, sebaiknya mainan boneka
kotor itu simpan di gudang saja. Nanti Pupu akan membawanya ke mana-mana.” Kata
mama sambil geleng-geleng kepala.
Akhirnya, Alin merebut boneka itu
dari si Pupu. Lalu, melemparkannya ke dalam gudang. Si Pupu hanya bisa
mendengking sedih ketika pintu gudang ditutup.
Malam harinya, peristiwa mengejutkan
itu terjadi. Tiba-tiba, Alin mendapati kamarnya berantakan. Buku-bukunya
berhamburan kemana-mana. Diatas meja belajarnya terdapat tumpahan air yang
membasahi buku-bukunya. Sebagian bukunya penuh dengan coretan spidol. Krayon berserakan
di lantai. Dinding kamar Alin penuh dengan coretan krayon warna-warni. Bukan itu
saja, tempat tidur Alin porak-poranda.
Dari balik selimut tersembul seraut
wajah tersenyum. Wajah boneka kain itu. Wajah ilyana! Alin serentak. Teringat Pupu
yang bendel. Pasti anjing nakal itu bermain-main di kamarnya.
“Pupuuuuu..!” jerit Alin kesal ingin menangis. Sesungguhnya,
si Pupu sama sekali tidak bersalah!
Keesokan harinya, di sekolah Alin
menceritakan kejadian di rumahnya kepada Prita dan Novika. Dia ingin memberikan
boneka itu kepada salah seorang teman-temannya itu. Sejak ada boneka itu,si
Pupu berubah menjadi sangat nakal.
“Aku tidak mau ihh.. kotor sekali,” geleng Prita.
“Buatku saja. Biar kubersihkan nanti. Sebenarnya, boneka ini manis
sekali. Hei, namanya ilyana! Lihat, di kerah bajunya ada sulaman namanya. Bagus
ya, namanya?” seru Novika tanpa rasa jijk memeluk boneka itu. Alin dan Prita
hanya saling pandang heran.
Ternyata setelah dibersihkan, ilyana
benar-benar menjelma menjadi boneka yang sangat manis. Novika menyisir rambut
ilyana yang indah. Lalu, memberinya tempat tidur kecil dan selimut mungil. Wajah
ilyana tampak berseri-seri diperlukan penuh sayang oleh Novika.
Malam itu, rumah Novika sepi. Mereka
sekeluarga menghadiri pesta pernikahan Om Aji. Tinggal Bi Num yang sudah tidur
pulas di kamarnya. Dua orang pencuri berhasil masuk rumah lewat pintu dapur. Salah
seorang masuk ke kamar mama Novika. Seorang lagi sibuk mengemasi
pajangan-pajangan kristal di ruang tengah.
Tiba-tiba, semua lampu menyala,
kemudian terdengar suara langkah kecil. Kedua pencuri itu sangat kaget. “Hei
kamu bilang semua sudah pergi kecuali pembantunya?” bisik salah seorang pencuri
kepada temannya. Temannya hanya diam. Akhirnya, mereka pergi tanpa membawa
hasil. Ketika melangkah, salah seorang pencuri menginjak ilyana yang tergeletak
di lantai. Dia mengambil boneka itu. Tapi ditengah jalan, temannya menyuruh
membuang boneka itu. Karena memang tidak ada gunanya.
Akhirnya, ilyana tergeletak di
samping tempat sampah. Tubuhnya kotor terkena lumpur. Maukah kamu memungutnya
dan menyayanginya? Karena sesungguhnya, ilyana bukan boneka sembarangan. Dia akan
menolong bila disayangi. Dengan kekutannyannya, ilyana berhasil mengusir
pencuri dari rumah Novika.
Tapi, ilyana akan membalas bila
dibenci. Seperti kejadian-kejadian di rumah Alin. Sekali lagi, maukah kamu
memungut ilyana?